“Manusia boleh kehilangan rumahnya, tetapi jangan sampai kehilangan arah hidupnya.”
Negeri yang Belum Pulih
Beberapa tahun berlalu sejak Afifi dilahirkan. Pergolakan yang melanda Sumatera mulai mereda. Asap peperangan tidak lagi memenuhi langit, tetapi bekas-bekasnya masih tinggal di hati masyarakat.
Sawah-sawah kembali ditanami. Kerbau kembali membajak lumpur yang sempat lama ditinggalkan. Di Pasar Payakumbuh, pedagang mulai berdatangan dari Harau, Suliki, Mungka, Halaban dan Agam membawa hasil bumi. Kehidupan perlahan menemukan iramanya kembali.
Namun, kewaspadaan belum pernah benar-benar hilang. Bila terdengar deru truk tentara melintas di jalan raya, percakapan di lapau tiba-tiba berhenti. Orang-orang saling berpandangan sebelum kembali berbicara dengan suara yang lebih perlahan.
Bagi orang dewasa, keadaan itu adalah sisa luka yang belum sembuh. Bagi anak-anak, semua itu hanyalah bagian dari kehidupan yang mereka anggap biasa.
Afifi tumbuh di tengah suasana seperti itu. Ia belum mengenal arti politik, pemberontakan, atau kekuasaan. Yang dikenalnya hanyalah wajah ayah dan ibunya, serta surau yang selalu dipenuhi orang mencari nasihat.
Suatu pagi, ketika mereka berjalan menuju surau, Afifi mendongak kepada ayahnya.
“Abah… apakah negeri kita sekarang sudah aman?”
Buya tersenyum tipis.
“Insya Allah lebih baik daripada dahulu, Nak. Tetapi keamanan bukan hanya tidak adanya perang. Negeri menjadi aman apabila manusianya kembali takut kepada Allah.”
Kalimat itu melayang begitu saja di telinga Afifi. Ia belum memahaminya. Namun, sebagaimana benih yang jatuh ke tanah subur, perkataan itu diam-diam mulai berakar di dalam hatinya.
***
Perjalanan yang Tidak Pernah Dikeluhkan
Walaupun keadaan mulai membaik, keluarga Buya masih beberapa kali berpindah tempat apabila muncul kabar adanya operasi keamanan di daerah sekitar.
Tas kecil berisi pakaian, mushaf Al-Qur’an, dan beberapa kitab peninggalan ayah Buya masih tergantung di dekat pintu rumah. Seakan-akan keluarga itu selalu siap jika suatu hari harus kembali meninggalkan rumah.
Afifi tidak pernah mengeluh. Baginya, setiap rumah yang mereka singgahi terasa akrab kerana di mana pun ayahnya berada, selalu ada orang yang menyambut dengan hormat.
Kadang mereka bermalam di rumah kerabat. Kadang di surau sebuah nagari. Kadang di rumah murid lama Buya yang dengan senang hati mempersilakan mereka tinggal.
Dalam setiap perpindahan itu, Buya tetap mengajar.
“Abang tidak lelah?” tanya istrinya suatu malam.
Buya menggeleng pelan.
“Kalau guru berhenti mengajar hanya kerana keadaan berubah, siapa yang akan menjaga hati anak-anak kita?”
Afifi yang berpura-pura tidur mendengar percakapan itu. Ia tidak memahami seluruhnya, tetapi ia merasakan bahwa bagi ayahnya, mengajar adalah bagian daripada ibadah yang tidak boleh ditinggalkan.
***
Belajar Melihat Sebelum Berbicara
Afifi bukan anak yang banyak bertanya. Ia lebih senang memperhatikan.
Ketika anak-anak lain berkejar-kejaran di halaman surau, ia duduk di anak tangga kayu sambil memperhatikan ayahnya menerima tamu.
Orang datang membawa berbagai persoalan. Ada yang berselisih soal tanah, ada yang meminta nasihat tentang keluarga, ada pula yang sekadar ingin mengaji.
Buya tidak pernah tergesa-gesa menjawab. Beliau lebih dahulu mendengar hingga orang itu selesai berbicara.
Suatu hari Afifi bertanya, “Abah, mengapa Abah lebih banyak diam dari pada berbicara?”
Buya tersenyum.
“Kerana telinga diciptakan dua, sedangkan mulut hanya satu. Allah mengajarkan kita agar lebih banyak mendengar daripada berbicara.”
Sejak hari itu, Afifi mulai memahami bahwa kebijaksanaan lahir bukan daripada banyaknya kata-kata, tetapi daripada kesabaran mendengarkan manusia.
***
Membangun Manusia
Suatu petang mereka berjalan pulang melewati pematang sawah. Gunung Sago tampak berdiri megah di kejauhan, sementara matahari perlahan turun di ufuk barat.
Afifi memandang sawah yang mulai menghijau.
“Abah, mengapa kita dulu sering berpindah-pindah?”
“Supaya keluarga kita selamat.”
“Kalau sekarang sudah aman?”
Buya berhenti melangkah.
“Sekarang kita membangun.”
“Membangun rumah?”
Buya menggeleng sambil menepuk bahu putranya.
“Bukan, Nak. Rumah dapat dibangun oleh tukang. Jalan dapat dibangun oleh pemerintah. Tetapi manusia hanya dapat dibangun oleh ilmu dan akhlak.”
Afifi memandang wajah ayahnya lama sekali. Ia belum memahami seluruh maknanya, tetapi kalimat itu tertanam dalam hatinya seperti paku yang dipukul kuat ke dalam kayu.
***
Benih Amanah
Selepas salat Subuh, Buya sering duduk sendirian di serambi rumah. Kabut tipis masih menggantung di kaki Gunung Sago. Burung-burung mulai keluar dari sarangnya, sementara suara ayam bersahutan dari kejauhan.
Di pangkuannya, Afifi yang masih kecil kadang tertidur kembali selepas mengaji.
Buya memandang wajah putranya dengan penuh kasih. Sekilas ia teringat kepada ayahnya yang telah lebih dahulu dipanggil Allah.
Dalam hati ia berdoa, “Ayah, cucumu ini tidak sempat mengenalmu. Tetapi aku berharap ia mewarisi keikhlasanmu dalam mengabdi.”
Tidak jauh dari tempat itu, istrinya sedang menyiapkan sarapan.
Buya berkata pelan, tanpa menyadari Afifi mulai membuka matanya.
“Harta boleh hilang kerana perang. Rumah boleh roboh dimakan zaman. Tetapi jika seorang anak kehilangan amanah, seluruh keturunannya akan kehilangan masa depan.”
Kata-kata itu menjadi nasihat pertama yang benar-benar menetap di dalam jiwa Afifi. Ia belum mengetahui bahwa kelak hidupnya akan dipenuhi ujian terhadap amanah itu, ketika menjadi mahasiswa, pengusaha, dosen, ulama, pemimpin pergerakan, bahkan saat menghadapi fitnah dan pengkhianatan.
***
Allah menanamkan benih yang paling berharga bagi fitrah anak manusia, yakni keyakinan bahwa kemuliaan seorang manusia bukan terletak pada apa yang dimilikinya, melainkan pada ketaqwaan, kepada amanah yang sanggup dijaganya hingga akhir hayat.

