BAB 7: Organisasi Sekolah

“Orang yang pandai dapat dicari. Orang yang jujur dapat dididik. Tetapi pemimpin yang mampu mendahulukan kepentingan orang lain harus ditempa oleh pengalaman.”

Seragam dan Tanggung Jawab

Tahun-tahun di Madrasah Negeri membawa pengalaman baru bagi Afifi. Selain belajar di ruang kelas dan mengaji di surau, setiap murid diwajibkan mengikuti kegiatan kepanduan. Halaman madrasah yang biasanya tenang kini dipenuhi tiang bendera, tali-temali, dan barisan para siswa berseragam kepanduan.

Bagi sebagian murid, kepanduan hanyalah kegiatan sore yang melelahkan. Mereka lebih senang segera pulang setelah pelajaran selesai. Namun ayah Afifi memandangnya berbeda.

“Ilmu mengajarkan cara berpikir,” kata beliau suatu malam. “Kepanduan mengajarkan cara hidup bersama.”

Kalimat itu membuat Afifi mengikuti setiap latihan dengan sungguh-sungguh. Ia belajar berdiri tegak, menghormati bendera, mengikat simpul dengan benar, menjaga kerapian barisan, serta mematuhi setiap aba-aba pembina.

Suatu hari pembina meminta setiap regu mendirikan tenda sebelum matahari terbenam. Regu Afifi bekerja tergesa-gesa. Tali dipasang kurang tepat sehingga tenda roboh ketika diterpa angin yang tidak terlalu kencang.

Beberapa teman mulai saling menyalahkan. Ada yang menyebut pasak kurang kuat, ada pula yang menyalahkan simpul tali. Pembina hanya memperhatikan dari kejauhan tanpa segera membantu.

Setelah keadaan kembali tenang, beliau berkata, “Tenda tidak roboh kerana angin. Ia roboh kerana kalian belum belajar bekerja sebagai satu regu.” Afifi menyadari bahawa sebuah pekerjaan tidak akan berhasil apabila setiap orang lebih sibuk mencari siapa yang salah daripada bersama-sama memperbaikinya.

***

Belajar Berbicara di Depan Orang Banyak

Beberapa bulan kemudian, guru bahasa Indonesia mengumumkan bahawa setiap siswa harus berlatih berpidato. Tidak seorang pun boleh menolak.

Mendengar pengumuman itu, wajah beberapa siswa langsung berubah. Berbicara di depan kelas ternyata lebih menakutkan daripada mengerjakan soal ujian.

Afifi pun merasakan hal yang sama. Selama ini ia lebih senang mendengarkan daripada berbicara. Ia takut salah mengucapkan kata, takut lupa isi pidato, dan takut ditertawakan teman-temannya.

Malam sebelum tampil, ayah melihat putranya masih memegang secarik kertas berisi naskah pidato.

“Masih menghafal?” tanya beliau.

Afifi mengangguk pelan.

Ayah tersenyum. “Jangan berusaha menghafal setiap kalimat. Pahami apa yang ingin engkau sampaikan. Orang akan lebih mudah menerima kata-kata yang keluar dari hati daripada yang hanya keluar dari hafalan.”

Keesokan harinya Afifi berdiri di depan kelas. Suaranya sempat bergetar pada kalimat pertama. Namun ia teringat nasihat ayahnya. Ia mulai berbicara dengan tenang, memandang teman-temannya satu per satu. Ketika pidato selesai, tepuk tangan sederhana terdengar memenuhi ruangan. Hari itu ia belajar bahawa keberanian bukanlah tidak memiliki rasa takut, melainkan tetap melangkah walaupun rasa takut masih ada.

***

Dipercaya Menjadi Pengurus Siswa

Memasuki tahun berikutnya, para guru memilih beberapa siswa untuk membantu mengelola kegiatan madrasah. Nama Afifi termasuk di antaranya.

Ia tidak pernah mengajukan diri. Bahkan ia merasa masih banyak teman yang lebih pandai dan lebih berani darinya.

Ketika menerima amanah itu, ia menemui ayahnya di serambi rumah.

“Abah, mengapa mereka memilihku?”

Ayah meletakkan kitab yang sedang dibacanya, lalu berkata pelan, “Jabatan bukan hadiah. Jabatan adalah tambahan amanah.”

Beliau melanjutkan, “Mulai hari ini, jangan merasa lebih tinggi daripada temanmu. Justru engkau harus menjadi orang yang paling dahulu datang ketika ada pekerjaan, dan menjadi orang yang paling akhir meninggalkan tempat setelah pekerjaan selesai.”

Nasihat itu benar-benar dipegang Afifi. Ketika sekolah mengadakan kerja bakti, ia tidak berdiri memberi perintah. Ia ikut mengangkat bangku, menyapu halaman, membersihkan saluran air, dan membantu teman-temannya tanpa membedakan siapa pengurus dan siapa bukan. Dari situlah ia mulai memahami bahawa kepemimpinan tidak dimulai dari suara yang paling keras, melainkan dari kesediaan memberi teladan melalui pekerjaan yang paling sederhana.

***

Belajar Mendengar Sebelum Memimpin

Tidak lama setelah menjadi pengurus siswa, Afifi mendapat tugas pertamanya sebagai penanggung jawab kegiatan kebersihan madrasah. Tugas itu tampak sederhana, tetapi ternyata tidak semudah yang dibayangkannya.

Pagi itu beberapa teman datang terlambat. Ada yang masih bercanda, ada pula yang bekerja sekadarnya. Melihat keadaan itu, Afifi mulai memberi perintah dengan nada yang agak keras.

“Yang di sana, cepat bersihkan halaman! Jangan hanya berdiri!”

Beberapa temannya memang mengikuti perintah itu. Namun wajah mereka tampak kurang senang. Pekerjaan selesai, tetapi suasana menjadi dingin.

Siang harinya, salah seorang guru memanggil Afifi ke ruang guru. Beliau tidak memarahinya. Sebaliknya, beliau hanya bertanya, “Apakah mereka bekerja kerana menghormatimu, atau kerana takut kepadamu?”

Pertanyaan itu terus terngiang di telinga Afifi. Dalam perjalanan pulang, ia menyadari bahawa suara yang keras belum tentu melahirkan kepemimpinan. Kadang-kadang, seorang pemimpin lebih dahulu harus belajar mendengar daripada berbicara.

***

Kesalahan Seorang Pengurus

Beberapa minggu kemudian, madrasah mengadakan perlombaan antarkelas. Sebagai pengurus siswa, Afifi bertanggung jawab menyusun jadwal seluruh kegiatan.

Ia mengerjakannya hingga larut malam. Berkali-kali jadwal itu diperiksa agar tidak ada yang bertabrakan.

Namun pada hari pelaksanaan, ternyata dua perlombaan berlangsung pada waktu yang sama. Beberapa peserta tidak dapat mengikuti keduanya. Guru dan murid menjadi kebingungan.

Afifi segera menyadari bahawa kesalahan itu berasal dari jadwal yang disusunnya sendiri.

Dengan wajah tertunduk, ia menemui guru pembimbing dan mengakui kekeliruannya tanpa mencari alasan.

Guru itu tersenyum bijak. “Kesalahan bukanlah aib terbesar bagi seorang pemimpin. Yang berbahaya ialah apabila ia menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dibuatnya sendiri.” Sejak hari itu Afifi selalu memeriksa setiap pekerjaan bukan sekali, melainkan berkali-kali sebelum menyerahkannya kepada orang lain.

***

Kepercayaan Tidak Dapat Dipaksa

Hari-hari berikutnya berjalan lebih baik. Afifi tidak lagi terburu-buru memberi perintah. Ia memilih memulai pekerjaan terlebih dahulu, lalu mengajak teman-temannya mengikuti.

Ketika halaman madrasah perlu dibersihkan, ia mengambil sapu sebelum meminta orang lain menyapu. Ketika ruang kelas harus dirapikan, ia mengangkat bangku lebih dahulu.

Teman-temannya mulai berubah. Mereka bekerja bukan kerana diperintah, melainkan kerana merasa tidak enak membiarkan Afifi bekerja sendirian.

Suatu sore, ayah melihat keadaan itu dari serambi surau.

Beliau memanggil putranya selepas salat Asar.

“Apa yang engkau lakukan sehingga teman-temanmu sekarang bekerja dengan ringan hati?”

Afifi menggeleng pelan. “Saya tidak tahu, Abah.”

Ayah tersenyum. “Kerana engkau berhenti memimpin dengan lisan, lalu mulai memimpin dengan teladan. Ketahuilah, kepercayaan tidak pernah lahir daripada jabatan. Kepercayaan tumbuh daripada akhlak yang dilihat setiap hari.”

***

Benih Seorang Pemimpin

Menjelang akhir tahun pelajaran, madrasah mengadakan perkemahan kepanduan di sebuah lapangan di kaki Gunung Sago. Para siswa mendirikan tenda, memasak bersama, berlatih baris-berbaris, dan mengikuti berbagai kegiatan yang menguji kerja sama.

Pada malam api unggun, setiap regu diminta menampilkan pidato singkat tentang arti pengabdian. Teman-teman satu regu meminta Afifi mewakili mereka.

Ia berdiri di hadapan seluruh peserta. Cahaya api unggun menerangi wajah-wajah yang mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Dahulu saya mengira pemimpin adalah orang yang berada paling depan,” katanya perlahan. “Tetapi guru-guru kami mengajarkan bahawa pemimpin adalah orang yang paling dahulu bekerja dan paling akhir menikmati hasilnya.”

Suasana menjadi hening. Tidak ada kalimat yang berlebihan. Hanya kata-kata sederhana yang lahir daripada pengalaman.

Selepas kegiatan selesai, ayah menghampirinya ketika para siswa mulai membereskan perlengkapan.

“Pidatomu tadi baik,” ujar beliau.

Afifi tersenyum malu.

Ayah meletakkan tangannya di bahu putranya. “Ingatlah, Nak. Allah tidak akan bertanya berapa banyak orang yang pernah engkau pimpin. Allah akan bertanya bagaimana engkau memperlakukan orang-orang yang dipimpin. Seorang pemimpin bukan diukur oleh banyaknya pengikut, melainkan oleh besarnya amanah yang sanggup dipikulnya.”

Malam itu, di bawah langit Payakumbuh yang dipenuhi bintang dan siluet Gunung Sago yang menjulang dalam gelap, Afifi merasakan bahawa kepemimpinan bukanlah jalan menuju kehormatan.

***

Kepemimpinan adalah jalan panjang menuju pengabdian. Dan jalan itu harus segera dimulai.