BAB 1: Anak yang Lahir di Tengah Badai

“Allah mengambil satu cahaya, lalu menghadirkan cahaya yang lain. Begitulah Dia mengajarkan manusia bahwa setiap kehilangan selalu membawa amanah yang baru.”

Pengantar

Payakumbuh adalah sebuah kota kecil yang dipeluk oleh hamparan sawah, aliran batang air yang jernih, dan bukit-bukit hijau yang seolah menjadi benteng alam bagi Luak Limopuluah. Di sebelah timur, Gunung Sago berdiri megah, sementara embun pagi turun perlahan di atas atap-atap rumah gadang dan surau-surau tua. Alamnya tenang, tetapi kehidupan manusia di dalamnya sentiasa bergerak.

Sejak dahulu, Payakumbuh dikenal sebagai kota perdagangan dan pendidikan. Pasarnya ramai sejak fajar. Pedagang datang dari Harau, Mungka, Suliki, Koto Nan Gadang, hingga Luhak Agam membawa hasil sawah, ternak, dan rempah-rempah. Di lapau-lapau, secangkir kopi menjadi saksi perbincangan tentang adat, agama, dan keadaan negeri.

Selepas Magrib, suara anak-anak mengaji memenuhi surau. Di sanalah para alim ulama membentuk akhlak generasi muda. Surau bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sekolah pertama, tempat bermusyawarah, dan tempat masyarakat mencari ketenangan ketika hidup dilanda kesulitan.

Namun, menjelang penghujung dekade 1950-an, ketenangan itu mulai terusik. Ketegangan antara pemerintah pusat dan beberapa tokoh di Sumatera semakin terasa. Berita tentang pergolakan politik menyebar dari Padang hingga ke nagari-nagari kecil. Jalan-jalan mulai lebih sering dilalui kendaraan tentera, sementara masyarakat memilih mengurangi perjalanan apabila malam menjelang.

Orang-orang tidak lagi berbicara sekeras dahulu. Banyak percakapan dilakukan dengan suara perlahan. Para ibu mulai menyimpan beras lebih banyak daripada biasanya, sementara para ayah sering bermusyawarah hingga larut malam membicarakan keadaan yang belum menentu.

Di tengah kegelisahan negeri, sebuah keluarga ulama di Payakumbuh sedang menghadapi ujian yang lebih dekat dan lebih menyayat hati. Bukan hanya keadaan negeri yang bergolak, tetapi rumah mereka sendiri sedang diselimuti duka yang mendalam.

Di tahun itulah Allah mempertemukan dua takdir sekaligus: sebuah perpisahan dan sebuah kelahiran. Satu generasi berpulang kepada-Nya, sementara generasi berikutnya lahir untuk memikul amanah yang belum selesai.

***

Kepergian Sang Tuan Guru

Awal tahun 1957 menjadi tahun yang berat bagi keluarga Buya. Ayahanda beliau, seorang ulama sepuh yang dihormati masyarakat Luak Limopuluah, jatuh sakit setelah sekian lama tetap mengajar walaupun usia telah renta.

Rumah keluarga itu tidak pernah sepi. Murid-murid lama datang bergantian menjenguk guru mereka. Sebagian membaca Al-Qur’an, sebagian lagi hanya duduk diam menemani, kerana mereka tahu usia manusia berada di tangan Allah.

Suatu pagi, selepas azan Subuh berkumandang, lelaki tua itu mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un…” lirih Buya sambil menggenggam tangan ayahnya yang mulai dingin.

Tangis memenuhi rumah. Bukan kerana mereka tidak rela, tetapi kerana mereka kehilangan seorang ayah, guru, sekaligus tempat bertanya bagi banyak orang.

Ketika jenazah dimakamkan, hampir seluruh kampung hadir mengantarkan. Seorang ninik mamak berbisik kepada Buya, “Kini giliran engkau memikul amanah beliau.”

Buya hanya menundukkan kepala. Ia memahami bahwa warisan terbesar ayahnya bukanlah tanah atau harta, melainkan kepercayaan masyarakat yang harus dijaga dengan ilmu dan akhlak.

***

Rumah yang Diselimuti Duka

Beberapa minggu selepas pemakaman, rumah itu masih terasa lengang. Kitab-kitab peninggalan ayah Buya tetap tersusun rapi di rak kayu, seakan menunggu tangan yang akan membacanya kembali.

Sesekali Buya duduk sendirian membuka kitab-kitab itu. Di sela-sela halaman, ia menemukan catatan tangan ayahnya yang mulai pudar dimakan usia.

Istrinya menghampiri dengan secangkir teh hangat.

“Abang masih memikirkannya?” tanyanya pelan.

“Seorang ayah boleh pergi,” jawab Buya, “tetapi amanah yang ditinggalkannya tetap tinggal.”

Istrinya mengangguk. Ia mengetahui beban yang kini dipikul suaminya jauh lebih berat daripada sebelumnya.

Di luar rumah, kehidupan masyarakat tetap berjalan. Namun di dalam hati Buya, ada ruang yang tidak akan pernah terisi lagi.

***

Tangisan yang Membawa Harapan

Beberapa bulan selepas keluarga itu berduka, Allah menghadirkan kabar yang lain. Istri Buya mulai merasakan tanda-tanda kelahiran anak mereka.

Keadaan negeri masih belum benar-benar tenang. Berita tentang ketegangan politik terus berdatangan dari berbagai daerah di Sumatera.

Seorang bidan kampung datang membantu persalinan, sementara beberapa perempuan tetangga membaca doa di ruang depan.

Di luar rumah, angin bertiup pelan melewati rumpun bambu. Sesekali terdengar kendaraan melintas menuju kota.

Ketika azan Zuhur hampir berkumandang, terdengar tangisan bayi yang memecah keheningan rumah.

Buya mengangkat bayi itu dengan mata yang berkaca-kaca.

“Allah mengambil ayahku,” bisiknya, “dan hari ini Dia menitipkan seorang anak kepadaku.”

***

Nama Sebuah Doa

Malam harinya, keluarga berkumpul sederhana. Tidak ada pesta besar. Keadaan negeri belum memungkinkan, dan keluarga itu lebih memilih kesederhanaan.

“Sudahkah Abang menentukan namanya?” tanya sang istri.

Buya mengangguk perlahan.

” Afifi.”

“Mengapa Afifi?”

“Kerana aku berharap Allah menjaga kehormatan hatinya, membersihkan jiwanya, dan menjadikannya orang yang memelihara amanah.”

Istrinya tersenyum sambil memandang bayi yang sedang tertidur lelap. Sebuah nama telah diberikan, tetapi sesungguhnya nama itu adalah doa yang akan menyertai seluruh perjalanan hidupnya.

***

Di Tengah Badai

Tahun 1957 berlalu dengan berbagai kegelisahan. Sumatera semakin dekat kepada pergolakan yang kelak memuncak menjadi konflik PRRI pada tahun berikutnya. Masyarakat hidup dalam suasana yang lebih berhati-hati, meskipun kehidupan sehari-hari masih terus berjalan.

Di rumah kecil itu, Buya sering memandang putranya yang sedang tidur.

Ia teringat wajah ayahnya yang baru saja berpulang.

Dalam hati ia berkata, “Ayah, aku tidak tahu apakah mampu menggantikan tempatmu. Tetapi aku akan berusaha mendidik cucumu sebagaimana engkau mendidikku.”

Malam itu ia menengadahkan tangan.

“Ya Allah, Engkau telah mengambil ayahku dan Engkau telah menitipkan seorang anak kepadaku. Jadikan kehilangan ini sebagai pengingat agar aku mendidiknya dengan sebaik-baiknya. Jika kelak ia memikul amanah yang lebih besar daripada aku, kuatkanlah hatinya sebagaimana Engkau menguatkan hati para hamba-Mu yang saleh.”

Di luar rumah, angin malam berembus lembut melewati sawah-sawah Payakumbuh. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa bayi yang baru lahir itu kelak akan tumbuh menjadi seorang pendidik, ulama fikih, dan pejuang yang menghabiskan seluruh hidupnya menjaga amanah.

***

Begitulah Allah memulai sebuah kisah anak manusia, dengan satu pemakaman, satu kelahiran, dan sebuah janji yang belum selesai.